aku baru saja berencana mengirim pesan padamu. sudah selesai kuketik, kemudian kuhapus semua.
tidak jadi.
aku tidak tahu kenapa harus tidak jadi dikirim tapi aku melakukannya. kamu tahu tidak, banyak yang aku tidak tahu menyangkut kamu tapi tetap saja kulakukan?
tentang sosokmu juga masih banyak rasanya yang tidak kutahu. tapi toh aku sudah jatuh cinta.
aku juga tidak tahu kenapa bisa.
tadi ada yang mengirimiku gambarmu. di sana matamu terpejam. mungkin tidak sengaja. karena yang mengambil juga tidak ijin terlebih dahulu padamu, kurasa.
aku tentu saja senang melihat dan mengetahui gambar sosokmu yang terbaru, tapi aku tidak suka rinduku diusik lagi.
rasanya aneh sekali. karena aku rasa kamu tidak pernah ada masalah dengan itu. tapi aku justru tidak suka.
aku ingin kamu mengerti dan melakukan. tapi kita sedang ada di situasi dimana membuatmu mengerti saja sepertinya akan sulit dan lama.
aku sangat ingin mendengar suaramu saat ini. juga melihat wajahmu. bukan dari kiriman orang lain. aku ingin melihat wajahmu sekaligus mendengar suaramu.
aku rindu sekali.
aku ingin dengar tentang harimu. tentang semua yang kamu alami selagi jauh dariku.
aku ingin menyampaikan juga tentang hariku selama jauh darimu. kamu tahu? ini tidak enak.
kamu tidak di sini. tidak ada di dalam apa yang ingin kusampaikan.
walaupun sebenarnya wajar, karena kalau kamu ada di sini dan melengkapi apa yang ingin kusampaikan, tentu saja aku tidak perlu menyampaikannya padamu lagi.
aku bingung harus bagaimana.
banyak ragu yang singgah bergantian sejak kamu di sana.
aku hanya ingin tidak sesulit ini untuk bertahan.
kamu akan bagaimana ya, kalau aku bilang aku sudah tidak tahan?
aku sepertinya benar-benar akan kembali mengetik pesan itu untukmu lalu mengirimnya.
apa akan langsung kamu balas? atau kamu akan langsung menelponku? atau kamu tidak mau balas lalu melanjutkan mengabaikanku meskipun kamupun sudah tidak karuan menahan rindu?
kita ini sebenarnya sedang apa?
tolong beritahu aku karena rasanya semakin buram saja.
About Me :)
- Iqna Syuhada Putri
- Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia
- enthusiastic planner idealist observer adabtable easy going perfectionist melancholic
Sabtu, 12 Mei 2018
Masih
Senin, 07 Mei 2018
Rindu
waktu itu, kamu masih kemungkinan dengan banyak kata tidak. aku tidak pernah menyangka kemudian berbagai kisahku diisi paling banyak oleh sosokmu.
aku masih ingat bagaimana bingung dan tanyaku muncul padamu yang tiba-tiba di hadapanku. tapi bingung dan tanya tidak bertahan lama karena dengan segera teralihkan pada mata dan tawamu.
kita kemudian melakukan beberapa hal dengan berulang tanpa rencana. aku lebih sering di sebelahmu dan kamu lebih sering lagi membuatku tersipu.
aku rasa aku terlalu sering di sebelahmu sampai tidak tahu lagi rasanya kalau tidak. tapi aku mau itu dan semua yang ada padamu.
di awal pagi ini aku kembali mengingat senyummu, hobimu menaikkan alis yang selalu kubantah, wajah pura-pura sombong dan tidak peduli-mu, tawamu dengan banyak rupa dan makna, juga tatapanmu yang membuaiku selalu.
aku mengingatmu masih sangat sering di siang hari dan lebih sering lagi di malam hari. berat sekali rasanya untuk tidak memulai merangkai kata menyapamu yang ada di sana.
aku ingin sekali mendengar suara yang dengan sangat mudah membuatku lelap dengan nyenyak. yang bernyanyi dan berpuisi dengan hangat membuatku selalu terpikat.
aku sudah mendoakanmu tadi, akan terus kulakukan, lagi dan lagi, semoga.
apa aku sudah pernah bilang, aku tidak pernah suka kata terakhir dan berubah?
aku tahu dan mengerti tapi masih sering merutuki. aku ingin mendekapmu saat ini. tanpa berkata apa-apa. hanya dalam dekapmu. itu saja.
Jumat, 08 Desember 2017
Coba Jadi Aku, Aku Jadi Dia
Selasa, 22 Agustus 2017
aduhai rindu~
"bicara rindu~ bicara haru~"
i'm currently listening to Senar Senja's Dialog Hujan
it gets me thinking. kerinduan. rindu. banyak sekali makna di sana.
hal yang tidak pernah ada habis-habisnya kalau dibahas. apalagi olehku.
i consider myself as a super kangenan person.
aku bisa rindu siapa saja pada kapan saja. bahkan kadang kangen sama teman sekelas yang dalam setahun cuma ngobrol 2x. itupun buat nitip absen (ngga deng, becanda).
but it's true. banyak kok teman sekelasku yang kadang cuma bicara ya kalau ada perlunya saja (aku juga begitu). 2x dalam setahun itu an acceptable number, kok. dan iya, kadang aku bisa saja tiba-tiba rindu mereka. mungkin buatku rindu bukan perihal seberapa kuat atau intens interaksi dan hubungan yang terbangun. tapi? ya kangen aja gitu.
rindu selalu jadi bahasan yang seru, paling tidak menurutku. beberapa penyair atau penulis justru kadang sukses karena punya rindu, kan?
ada 2 quote soal rindu yang lumayan ngetop di kalangan generasiku.
nah, instead of Eka Kurniawan's "seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas", aku lebih mengamini Pidi Baiq's "rindu itu urusan pribadi. tidak bersangkut paut dengan dia bagaimana kepadamu".
menurutku tidak apa-apa kalau rindumu tidak berbalas, toh cintamu saja sudah sering bertepuk sebelah tangan, kan?
juga tidak apa-apa kalau kamu kangenan. itu tanda kamu masih manusia. yang tidak boleh itu rindumu kemudian membuatmu nelangsa dan uring-uringan.
menurutku rindu harusnya bisa jadi salah satu motivasi yang bisa memompa lagi semangatmu. bikin kamu meraih dan memperjuangkan apapun itu yang harus diselesaikan supaya bisa rindu lebih banyak lagi? tapi apalah aku yang berani bilang begini tapi kalau rindu juga masih suka nangis.
Senin, 24 Juli 2017
Mengingatmu
malam ini aku kembali mengingatmu. bersama detak jarum jam kamarku yang rasanya tiap detik makin cepat dan makin nyaring. bersama dengkuran nafas manusia seisi rumahku yang masing-masing sudah pulas sendiri. aku mengingatmu, lalu aku mengingat kita. teringat ternyata banyak mimpi dan angan yang kita gagalkan karena tak lagi bersama. teringat ternyata banyak wacana dan rencana yang hanya tersusun dalam imaji tanpa bisa diwujudkan lagi. aku mengingatmu sedikit lebih lama dari biasanya. entah kenapa malam ini terasa berbeda. mungkin hanya egoismeku yang membedakan atau memang aku sedang berada dalam mimpi tidurmu di tengah malam ini, seperti kata mereka. mengingatmu sudah tidak sakit lagi. mengingatmu sudah tidak sesak lagi kali ini. mengingatmu kini sudah mau disertai senyum. mengingatmu kini sudah mulai berdamai. aku tiba-tiba ingat pelukan terakhirmu malam itu, yang tak pernah kusangka ternyata jadi terakhir. aku ingat tawamu, kerut di bawah matamu saat tersenyum manis, aku ingat bau tubuhmu. tapi yang satu ini sudah mulai samar. aku tiba-tiba ingin bertanya tentang kabarmu. apa resah masih suka singgah? apa penat sudah mulai bisa kamu perintah? apa cemas masih suka datang sesekali mengundang ragumu? apa curigamu pada dunia sudah berkurang atau kadarnya malah menjadi? ingin rasanya aku berjalan ke arahmu sambil tersenyum lebar dan menawarkan obrolan singkat menertawakan kita, tapi aku takut kamu tidak selesa. aku terkadang masih suka mengingatmu seperti malam ini, semoga lama-lama nanti hilang :)
Rabu, 17 Agustus 2016
Ranting Kering
hai, sudah lama aku tak menulis tentangmu. tentang kisah kita yang tak bisa dimusnahkan pun dipertahankan.
bagaimana dinding yang bertuliskan namaku? sudahkah ia memudar? atau masihkah ia sama seperti saat aku mengukirnya di sebelahmu?
tidak ada yang pernah tahu perihal peranmu dalam ceritaku. tapi hatiku tak pernah sedetikpun meninggalkan kenangan aku dan kamu.
harusnya kita sudah berakhir sejak kita baru saja memulai, harusnya.
tapi harus yang aku dan kamu punya bertentangan dengan seisi dunia.
aku ingin menyapamu sejenak kali ini.
hanya mengajakmu saling melempar senyum kemudian duduk berdua dalam diam. dengan kepalaku di pundakmu, dan tanganku di dalam saku baju tebalmu.
kita selalu bilang sama-sama saling merelakan.
tapi yang kemudian kembali dan mengenang lagi selalu lagi-lagi kamu dan aku.
bagaimana kabarmu?
bagaimana kabarmu?
tidak, bagaimana kabarmu?
aku bukan butuh baik-baik saja.
Bukittinggi, 17 Agustus 2016
5.41 pm
aku cuma rindu. itu saja.
Jumat, 12 Februari 2016
Pengakuan
Ternyata, saat kamu mengagumi seseorang, kadang akan ada waktu di mana kamu tidak ingin berpikir secara objektif. Bukan karena kamu tidak bisa. Hanya saja, keinginanmu untuk tetap memenangkan orang itu jauh lebih dominan. Kamu jadi ingin tetap mengaguminya dalam aspek apapun. Kamu selalu ingin membandingkannya dalam segala hal. Lagi-lagi, karena kamu adalah pengagum dan pendukung setianya, kamu akan meletakkannya pada urutan yang tinggi dan selalu baik dalam perbandingan apapun. Otakmu bisa saja sadar, tapi hatimu saat itu memaksa dipilih. Pilihan untuk kembali memenangkan dia. Dia yang kamu kagumi.
Andalas, petang di 12 Februari.
Rabu, 27 Januari 2016
Pengagum Raha(sia2)mu
Bagiku, yang tidak suka paham pragmatisme tapi suka mengklasifikasikan segala hal, ada perbedaan besar antara suka, butuh, kagum, sayang, dan cinta.
dalam kasusmu, sampai detik ini masih kugolongkan sebagai rasa kagum.
tapi sepertinya untukmu selalu ada pengecualian.
kagumku penuh rasa lainnya. tak terjelaskan aksara tapi tak tersentuh ragu.
aku orang yang sangat mudah jera. tapi untuk setiap kegagalan yang menyangkut kamu, jeraku tak sudi muncul.
aku mencintai zona nyamanku lebih besar dari kecintaanku pada tantangan dan resiko. tapi untuk segala hambatan menyangkut kamu, kadang egoku luruh saja.
bagaimana kalau kita biarkan saja tetap begini? aku tidak butuh jadi siapa dalam apamu.
yang penting kamu tahu, aku ada untukmu.
itu sudah lebih dari cukup.
di sudut ruang kotak, andalas.
untuk kesekian kalinya, masih mengagumimu.
Sabtu, 23 Januari 2016
Adore, Admiring. (2)
selamat pagi, bung.
apa hari ini masih sama seperti hari-hari sebelumnya di mana keberadaanku masih tak terlacak dalam lembar jurnal hidupmu?
atau apa hari ini ternyata lebih parah lagi?
aku ingin memberi saran, kalau bisa, singgahlah sebentar saja. aku tidak memaksa, hanya saja supaya kita sama-sama jera.
jera mempercayakan persepsi pada spekulasi tanpa bukti.
aku tidak pernah membencimu, hey. aku bahkan sudah begitu lama jadi seseorang yang selalu menganggap mendukungmu adalah hal yang melegakan dan menyenangkan meskipun kamu tidak pernah tahu.
lalu dari mana munculnya, bung?
bagaimana harus kumulai lagi langkah yang sudah kepalang mundur, agar bisa sebentar saja kamu singgah membandingkan beda.
aku tidak pernah membencimu, hey. sedetikpun tidak pernah terlintas. niatan saja tak ada.
sekarang ini, boro-boro membayangkan berjalan santai ke arahmu dan berkata mengenai segala kemungkinan, aku memilih mundur tanpa memberi tahumu benar yang selalu kamu tolak untuk dengar dan rasakan.
aku masih mengagumimu, dengan situasimu yang menganggapku membencimu. tolonglah jangan jadi mereka. jangan jadi lucu, bung.
Selasa, 03 November 2015
Adore, Admiring.
Coba beritahu aku cara mengurangi kekaguman.
ini menyangkut kamu, masih saja kamu. seseorang yang kepadanya aku ingin berjalan dengan santai, menghampiri, dan berkata "hey, why don't we try to give it a little shot?".
seseorang yang untuk kesuksesannya aku tak masalah selalu jadi invisible.
seseorang yang entah sudah berapa kali punya andil membuat luka di hatiku tapi masih saja aku bela mati-matian di depan mereka.
aku mulai bertanya-tanya apa bedanya kagum, sayang, cinta, dan bodoh.
kamu tak akan pernah tau. aku pun tak ingin kamu tau.
tapi aku cuma ingin jadi seseorang yang akan tetap di sisimu even if the world's crashing down. hanya itu.
tidur nyenyak ya, bung.
dengan tulus,
pengagum (entah rahasia entah merasa rahasia)
Kamis, 23 Juli 2015
Bukittinggi, 23 Juli 2015, 2.54 AM
aku selalu berpikir melupakan adalah hal yang tidak pernah sebegitu sulitnya. aku selalu menertawakan mereka yang menganggap cinta adalah sesuatu yang mesti ditangisi dan dibiarkan berlarut-larut saat pergi. aku menangis lagi. dua kali dalam hari ini. dua puluh tiga juli. dua kali dari awal pagi hingga detik ini, hampir pukul tiga. tapi rasanya berbeda. sedikitpun belum terasa lega. ada yang menggelitikku membuka kembali pesanmu, memandang kembali gambarmu. sampai kapan aku harus serindu ini tiap mengenangmu? rasanya aku sudah bosan. bukankah tiga tahun sudah terlalu lama bagi lupa untuk berusaha? dan tidakkah tiga tahun tanpa jumpa dan berita membuat cinta beranjak sirna? toh ternyata tidak. aku masih di sini. sama seperti hari-hari saat kamu juga masih di sini. sama seperti hari-hari saat tawa renyahku bergema karena gurauanmu di telepon. sama seperti saat bibirku berkerut menyimpan kekesalan saat tak ada kabar pesan singkat darimu yang sedang jauh di sana. sama seperti saat ada kontraksi di antara bagian perut dan dadaku saat tahu sebentar lagi kamu akan sampai di depan teras rumah. sama seperti tangisku yang pecah di pangkuan Bunda saat kamu pergi. kamarku lagi-lagi masih jadi saksi. kapan aku bisa bilang kalau aku tidak ingin begini? apa kamu rindu sendiri, seperti ini? apa kamu berhasil berdiri, tanpa rindu dan ingatan masa kita lagi?
aku kangen, Man. kamu apa kabar?